Kamis, 27 November 2014

Orange Sky

“Dirimu bodoh, ya?”

Pertanyaan itu yang sekarang dilontarkannya. Pertanyaan yang dikeluarkan dari mulut seorang perempuan berkerudung pink. Perempuan yang menjadi teman masa kecilku ini.

Dia bertanya pertanyaan itu dengan wajah santai. Seakan-akan pertanyaan itu sudah biasa dilontarkannya di dunia ini.

Aku memandangnya bingung.

Sore telah datang dan kami sedang dalam perjalanan pulang. Melewati sebuah waduk memanjang yang sekarang sudah terbuang alias tak digunakan lagi.

Tanpa menjawab pertanyaan itu, aku hanya menatap langit jingga dengan pandangan pasrah. Melihat hal itu, perempuan berkerudung itu hanya bisa terdiam sambil menatapku.

Tapi memang tak bisa kupungkiri, senja datang dengan indahnya. 

Matahari yang sudah akan tertidur itu, menampakkan warna orange yang sangat indah. Orange yang berkolaborasi dengan warna malam. Awan-awan tipis menutupi keindahan sang mentari.

Entah kapan pertama kalinya aku memandangi langit seperti ini, tapi keindahan yang diciptakan-Nya benar-benar tak tertandingi. Tetap indah entah berapa tahun kau menatapnya.

“Kamu mau menyerah lagi?” tanya perempuan ini lagi dan secara tiba-tiba. Kulirik dia. Tatapannya berubah menjadi tatapan jengkel.

Aku hanya menghela nafas lalu menatap lurus ke depan. Entah kenapa, aku tidak bisa menatap wajahnya. Apalagi mata coklat gelapnya yang sekarang menatapku tajam, dengan tatapan marah, kesal dan...

...kecewa.

Diam adalah kelakuan yang bisa kulakukan disini.

Diam adalah jawabanku.

Diam adalah diriku.

Sebenarnya, kami memperdebati masalah yang tidak besar sekali. Aku hanya kalah dari lomba melukis.

Ya, kalian tidak salah dengar. Aku baru saja kalah dari lomba melukis.

Padahal, dulu sewaktu aku masih kecil, aku begitu mudah memenangkan medali emas yang sangat didambakan para peserta. SMP, diriku menurun. Aku menjadi lebih sering mendapatkan medali perak.

Dan sekarang, sertifikat saja sudah tidak dapat kuraih.

Semenjak itulah, aku menjadi takut untuk mengikuti lomba. Takut menjatuhkan harapan besar mereka ke tanah. Takut mengecewakan mereka.

Dan takut mengecewakannya…

Tapi, aku tetap menghabiskan waktuku di ruang klub Melukis. 

Sedangkan perempuan disebelahku, lebih sering menungguku di gerbang sekolah.

“Yah, aku bukan seniman seperti dirimu...” seniman? Seniman apa? “...Seniman juga sering mempunyai pikiran yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Tapi, apakah seniman berpikir kalau menyerah adalah hal yang baik untuk dilakukan?” tanyanya. Masih menatapku dengan tatapan yang sama.

“Kalau begitu...” akhirnya – setelah sekian lama – aku angkat bicara “Bagaimana kalau aku menjadi seniman pertama yang berpikir bahwa menyerah adalah hal baik?”

Lalu, aku mempercepat jalanku tanpa menunggunya memberikan jawaban. 

Hei, bahkan aku tak melirik kearahnya sedikit pun. Aku langsung meninggalkan perempuan berkerudung pink yang sekarang terdiam sambil menatapku kaget.

*

Esoknya. Jam 17:06 WIB.

Aku kembali menghabiskan waktu di Klub Melukis. Sore sudah datang, bahkan sudah bisa dibilang cukup larut, karena sudah jam 5 sore. 

Tapi, aku tetap memaksa tanganku untuk tetap menggambar.

Beberapa detik kemudian, aku terdiam. Menatap hasil sketsa gambar yang aku buat.

Seorang perempuan mengenakan jaket bertudung. Menunduk. Dengan background abstrak yang masih berupa coretan pensil. Belum diwarnai sama sekali.

“Puh...” gumamku kecil. Menahan tawa mengejek hanya untuk diriku sendiri. Cahaya sore hari memaksa masuk lewat jendela ruang Klub, mencoba mengintipi gambarku.

Aku melirik jam tangan sebentar. Lalu tersenyum kecut.

Kupastikan, perempuan berkerudung itu sudah pulang, meninggalkanku.

Kuambil kanvas, lalu mencelupkannya ke cat merah.

Dan dengan lincah, tanganku mewarnai lukisan itu. Mencoretnya dengan warna merah yang kubentuk menjadi huruf ‘X’

“Yang ini pun juga gagal” gumamku pelan dengan nada mengejek bercampur kecewa.

Kalau perempuan itu melihatku, pasti dia akan memarahiku. Mengatakan bahwa gambar itu sangat bagus. Menanyakan, kenapa aku menandai dengan tanda ‘X’ besar dan berwarna merah. Dan yang bisa kulakukan pasti hanya tersenyum kecil.

Pengambilan ijazah sudah dilaksanakan tadi. Dan aku masih menyimpannya, menaruhnya dalam tas. Entah kenapa, hari ini aku malas pulang.

Dan untuk mencari inspirasi beserta sedikit udara segar, aku memutuskan untuk pergi ke atap sekolah.

*

Sebelum aku membuka pintu atap sekolah yang berwarna putih itu, dari kaca tipis yang berada di pintu, aku melihat seseorang.

Seseorang dengan kerudung pink. Berdiri di belakang pembatas atap. Menatap Ijazah yang sekarang berada digenggamannya. Cahaya mentari sore menyinari tubuhnya dari depan. Membuatnya seakan berkilau.

Dan yang membuatku terbelalak, dia merobek ijazahnya.

Tangannya terentang seakan-akan dia akan terbang. Potongan-potongan ijazah itu melayang mengelilinginya, berkilauan karena cahaya mentari. Seakan-akan potongan-potongan kertas itu adalah penari yang menari untuknya, sementara dia adalah tokoh utama. Matahari sore seakan-akan menjadi lampu spotlight untuknya. Hanya untuknya. Background berwarna orange sedikit gelap sangat kontras untuk perempuan itu.

Mataku segera menangkap keindahan ini. Menyimpan didalam otakku.

Aku berlari. Kembali ke ruang Klub. Ingin segera menaruh gambaran ini di atas kanvas. Membuat semua mengerti keindahan yang ada di kepalaku.

*

Lukisan itu sudah akan selesai. Kuberikan warna sunset orange sedikit untuk background-nya.

Aku berhenti sebentar. Melihat lukisan seorang perempuan berkerudung pink yang merobek ijazahnya diatas atap.

Dengan background orange yang kubuat bergradiasi. Agar menampakkan langit sore. Efek potongan kertas ijazah yang beterbangan juga kutambahkan. Berwarna putih mengkilau yang menampakkan kecantikan perempuan berkerudung ini.

Tapi, sekali lagi, dimataku lukisan ini nampak biasa. Bahkan nampak bukan apa-apa dibandingkan coretan anak kecil.

Aku menggeleng pelan. Kuambil kuasku lagi, memberinya cat merah. 
Lalu, mencoret lukisan ini dengan ‘X’ besar.

Dan tanpa kusadari, kantung mata sudah menghiasi mataku.

*

Aku mengingat lagi, sudah berapa banyak lukisan yang kuberi tanda ‘X’ merah?

Tanpa sadar, kedua kakiku menuntunku menuju kelas.

Lalu, aku melihat coretan-coretan kapur teman-temanku yang menghiasi papan tulis berwarna hijau yang sekarang sudah tidak polos ini.

Banyak yang menuliskan kata-kata semangat dan perpisahan. Dengan kapur putih, pink, biru. Berbagai warna berkumpul disini.

Aku menatap papan tulis itu kosong. Semua hal sekarang berkelibat di dalam kepalaku. Lukisan-lukisanku, penerimaan ijazah, lukisan-lukisan yang sekarang sudah tercoret dengan ‘X’ besar.

Dan yang terakhir, perempuan berkerudung pink yang merobek kertas ijazah yang baru diterimanya tadi.

Cahaya sore mengikutiku kemana pun aku pergi. Menyinari diriku beserta papan tulis itu.

Sekarang pikiranku benar-benar sudah kosong. Aku melihat kearah cahaya sore yang menyinari diriku. Cukup silau sebenarnya, tapi aku sudah tak peduli.

Pikiranku sudah kosong.

Dan tanpa sadar, pikiranku mem-flashback sesuatu. Sesuatu yang membuatku menyukai lukisan bahkan melukis itu sendiri.


Waktu itu, umurku dan perempuan berkerudung itu masih sekitar 10 tahun. Kami lumayan sering main bersama, tak dipungkiri juga orangtua kami dekat.

Sewaktu itu pula, kami sering berjalan pulang melewati waduk memanjang yang sewaktu itu masih digunakan.

Suatu hari…

Air yang bergelombang deras itu menimbulkan efek cahaya yang menarik di kedua mata kami. Cahaya matahari yang hendak terbenam, menyinari riukan air yang cukup deras.

“Tahu nggak…” aku melirik kearah perempuan berkerudung coklat acak-acakkan itu “…Aku benar-benar suka dengan pemandangan seperti ini…coba ada yang bisa membuat pemandangan ini tersimpan dikepala selama-lamanya…” kata perempuan berkerudung itu sambil tersenyum hangat.

Entah kenapa, aku merasakan aura nostalgia pada saat menatap pemandangan ini bersamanya.

Aku lalu mengalihkan perhatian kearah waduk itu. Berpikir, bagaimana bisa aku mewujudkan mimpi polos anak perempuan ini.

Lalu, aku mengangguk membulatkan tekadku.

“Bagaimana kalau lukisan?”

Keheningan terjadi diantara kami berdua, sementara aku diam menunggu jawaban.

“Eh?” perempuan itu menatapku.

“Iya, karena aku tak begitu pintar dalam hal kamera…mungkin aku bisa melukis pemandangan ini! Kau tahu…sebagai hadiah pertemanan kita!” balasku tanpa menggubris kebingungan sang perempuan kecil.

Perempuan kecil itu hanya menatapku dalam diam, seakan-akan berusaha mencerna perkataanku. Tak lama, dia pun tertawa kecil.

“E-eh?! Kenapa?!” aku mulai malu dan panik. Apa jangan-jangan aku mempermalukan diriku sendiri?!

Perempuan berkerudung itu menghela napas. Tersenyum. Lalu dia menatapku dengan tatapan senang dan hangat.

“Aku akan menunggu janji itu…” katanya sambil tersenyum lebar.


Lalu, sebuah pemikiran yang entah dikarenakan oleh apa, muncul dikepalaku.

Setidaknya, aku harus meninggalkan sesuatu yang besar di sekolah ini. Meninggalkan lukisan terbesar. Meninggalkan janjiku pada perempuan itu!

Ah!

Aku mendapat ide. Tanganku bergetar saat aku mendapatkan ide ini.

Aku membalikkan badan. Berlari keluar kelas dengan kecepatan yang tak pernah kurasakan.

Aku harus melakukan ini!

...

Aku segera mengambil kuas. Kuas besar, kecil tak kulihat sekarang. Lalu, aku mengambil cat orange dengan terburu-buru. Mengambil barang yang aku butuhkan untuk membuat lukisan terbesar itu.

Mengambil barang apapun yang terlihat. Aku tak punya waktu hanya untuk mencari barang yang dibutuhkan!

...

Aku melempar cat kearah papan tulis. Lalu, dengan kuas besar, aku mulai menyusunnya. Mulai membentuknya untuk menjadi cahaya mentari sore yang indah.

Aku  melempar cat lagi. Menyusunnya lagi. Melemparnya lagi. Menyusunnya lagi!

Terus! Terus seperti itu!

Cat yang berserakan dan bertumpahan di lantai tak aku pedulikan.
Melemparnya, mencatnya, menyusunnya! Itu yang ada dipikiranku!

...

Aku mundur. Untuk melihat karyaku. Papan tulis itu, telah berubah menjadi warna orange. Berubah menjadi langit sore yang selalu kulihat bersama dengan perempuan berkerudung pink itu.

“Sentuhan terakhir” gumamku. Mengambil ijazahku beserta kayu untuk membuat ijazahku dapat kupajang. Setelah itu, aku menempelkan Ijazahku di kayu itu. 

Lalu, aku mengambil kuas kecil, dan mencelupkannya ke cat merah.

Aku menatap ijazah yang sekarang tertempel di kayu. Menaruhnya, menyenderkannya ke papan tulis, lalu mengambil kuas yang sekarang sudah terkotori dengan cat merah.

Dan hal yang selalu kulakukan pada lukisanku.

Dengan lincah, tanganku bergerak mencoret ijazahku. Mencoretnya dengan tanda ‘X’ merah.

*

“Hei, kudengar…ada yang mencoret-coret kelas kita ya? Dan katanya…coretannya sampai mengotori hampir setengah kelas! Aku sempat melihatnya tadi! Hebat…aku suka bagaimana caranya mengotori kelas…walaupun Pak cleaning service sekolah langsung jengkel…”

Aku hanya tersenyum mendengar celotehan teman perempuanku ini. Teman masa kecilku, seorang gadis berkerudung pink penyuka sunset dan warna orange ini.

“Siapa yah, yang sudah membuat master piece seperti itu, aku ingin berterima kasih entah kenapa…” gumam perempuan itu sembari melirikku sedikit.

Dan aku menangkap arti lirikan penuh terima kasih, kagum, tak percaya dan sebersit rasa bahagia beserta lega.

Aku hanya membalasnya dengan senyum. Mataku pun beralih memandang semburat matahari berwarna jingga. Matahari yang akan menyembunyikan dirinya sampai pagi pun memanggilnya kembali.

Mataku berbinar memandang langit-langit orange  yang dilapisi dengan awan-awan putih nan tipis. Teringat kembali ketika tangan-tanganku melempar kaleng-kaleng cat tadi.

Sambil tersenyum, aku berkata “Tenanglah, sang master pasti akan menerima terima kasihmu dengan lapang dada. Aku tahu itu…”

Dia tertawa kecil “Darimana kau tahu?” tanyanya pelan. Kembali melirikku dengan binar-binar cerianya.

Aku menatapnya. Menatap matanya dengan tatapan yang juga lega. Tak lama, aku mengangguk.

“Entahlah. Aku hanya tahu…”

End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar