“Dirimu bodoh, ya?”
Pertanyaan itu yang sekarang
dilontarkannya. Pertanyaan yang dikeluarkan dari mulut seorang perempuan
berkerudung pink. Perempuan yang
menjadi teman masa kecilku ini.
Dia bertanya pertanyaan itu dengan wajah
santai. Seakan-akan pertanyaan itu sudah biasa dilontarkannya di dunia ini.
Aku memandangnya bingung.
Sore telah datang dan kami sedang dalam
perjalanan pulang. Melewati sebuah waduk memanjang yang sekarang sudah terbuang
alias tak digunakan lagi.
Tanpa menjawab pertanyaan itu, aku hanya
menatap langit jingga dengan pandangan pasrah. Melihat hal itu, perempuan
berkerudung itu hanya bisa terdiam sambil menatapku.
Tapi memang tak bisa kupungkiri, senja
datang dengan indahnya.
Matahari yang sudah akan tertidur itu, menampakkan
warna orange yang sangat indah. Orange yang berkolaborasi dengan warna
malam. Awan-awan tipis menutupi keindahan sang mentari.
Entah kapan pertama kalinya aku memandangi
langit seperti ini, tapi keindahan yang diciptakan-Nya benar-benar tak
tertandingi. Tetap indah entah berapa tahun kau menatapnya.
“Kamu mau menyerah lagi?” tanya perempuan
ini lagi dan secara tiba-tiba. Kulirik dia. Tatapannya berubah menjadi tatapan jengkel.
Aku hanya menghela nafas lalu menatap lurus
ke depan. Entah kenapa, aku tidak bisa menatap wajahnya. Apalagi mata coklat
gelapnya yang sekarang menatapku tajam, dengan tatapan marah, kesal dan...
...kecewa.
Diam adalah kelakuan yang bisa kulakukan
disini.
Diam adalah jawabanku.
Diam adalah diriku.
Sebenarnya, kami memperdebati masalah yang
tidak besar sekali. Aku hanya kalah dari lomba melukis.
Ya, kalian tidak salah dengar. Aku baru
saja kalah dari lomba melukis.
Padahal, dulu sewaktu aku masih kecil, aku
begitu mudah memenangkan medali emas yang sangat didambakan para peserta. SMP,
diriku menurun. Aku menjadi lebih sering mendapatkan medali perak.
Dan sekarang, sertifikat saja sudah tidak
dapat kuraih.
Semenjak itulah, aku menjadi takut untuk
mengikuti lomba. Takut menjatuhkan harapan besar mereka ke tanah. Takut
mengecewakan mereka.
Dan takut mengecewakannya…
Tapi, aku tetap menghabiskan waktuku di
ruang klub Melukis.
Sedangkan perempuan disebelahku, lebih sering menungguku di
gerbang sekolah.
“Yah, aku bukan seniman seperti dirimu...”
seniman? Seniman apa? “...Seniman juga sering mempunyai pikiran yang mungkin
tidak pernah dipikirkan oleh orang lain. Tapi, apakah seniman berpikir kalau
menyerah adalah hal yang baik untuk dilakukan?” tanyanya. Masih menatapku dengan
tatapan yang sama.
“Kalau begitu...” akhirnya – setelah sekian
lama – aku angkat bicara “Bagaimana kalau aku menjadi seniman pertama yang
berpikir bahwa menyerah adalah hal baik?”
Lalu, aku mempercepat jalanku tanpa
menunggunya memberikan jawaban.
Hei, bahkan aku tak melirik kearahnya sedikit
pun. Aku langsung meninggalkan perempuan berkerudung pink yang sekarang terdiam
sambil menatapku kaget.
*
Esoknya. Jam 17:06 WIB.
Aku kembali menghabiskan waktu di Klub
Melukis. Sore sudah datang, bahkan sudah bisa dibilang cukup larut, karena
sudah jam 5 sore.
Tapi, aku tetap memaksa tanganku untuk tetap menggambar.
Beberapa detik kemudian, aku terdiam.
Menatap hasil sketsa gambar yang aku buat.
Seorang perempuan mengenakan jaket
bertudung. Menunduk. Dengan background
abstrak yang masih berupa coretan pensil. Belum diwarnai sama sekali.
“Puh...” gumamku kecil. Menahan tawa
mengejek hanya untuk diriku sendiri. Cahaya sore hari memaksa masuk lewat
jendela ruang Klub, mencoba mengintipi gambarku.
Aku melirik jam tangan sebentar. Lalu
tersenyum kecut.
Kupastikan, perempuan berkerudung itu sudah
pulang, meninggalkanku.
Kuambil kanvas, lalu mencelupkannya ke cat
merah.
Dan dengan lincah, tanganku mewarnai
lukisan itu. Mencoretnya dengan warna merah yang kubentuk menjadi huruf ‘X’
“Yang ini pun juga gagal” gumamku pelan
dengan nada mengejek bercampur kecewa.
Kalau perempuan itu melihatku, pasti dia
akan memarahiku. Mengatakan bahwa gambar itu sangat bagus. Menanyakan, kenapa
aku menandai dengan tanda ‘X’ besar dan berwarna merah. Dan yang bisa kulakukan
pasti hanya tersenyum kecil.
Pengambilan ijazah sudah dilaksanakan tadi.
Dan aku masih menyimpannya, menaruhnya dalam tas. Entah kenapa, hari ini aku
malas pulang.
Dan untuk mencari inspirasi beserta sedikit
udara segar, aku memutuskan untuk pergi ke atap sekolah.
*
Sebelum aku membuka pintu atap sekolah yang
berwarna putih itu, dari kaca tipis yang berada di pintu, aku melihat
seseorang.
Seseorang dengan kerudung pink. Berdiri di belakang
pembatas atap. Menatap Ijazah yang sekarang berada digenggamannya. Cahaya
mentari sore menyinari tubuhnya dari depan. Membuatnya seakan berkilau.
Dan yang membuatku terbelalak, dia merobek ijazahnya.
Tangannya terentang seakan-akan dia akan
terbang. Potongan-potongan ijazah itu melayang mengelilinginya, berkilauan
karena cahaya mentari. Seakan-akan potongan-potongan kertas itu adalah penari
yang menari untuknya, sementara dia adalah tokoh utama. Matahari sore
seakan-akan menjadi lampu spotlight untuknya.
Hanya untuknya. Background berwarna orange sedikit gelap sangat kontras
untuk perempuan itu.
Mataku segera menangkap keindahan ini.
Menyimpan didalam otakku.
Aku berlari. Kembali ke ruang Klub. Ingin
segera menaruh gambaran ini di atas kanvas. Membuat semua mengerti keindahan
yang ada di kepalaku.
*
Lukisan itu sudah akan selesai. Kuberikan
warna sunset orange sedikit untuk
background-nya.
Aku berhenti sebentar. Melihat lukisan
seorang perempuan berkerudung pink yang merobek ijazahnya diatas atap.
Dengan background
orange yang kubuat bergradiasi. Agar menampakkan langit sore. Efek potongan
kertas ijazah yang beterbangan juga kutambahkan. Berwarna putih mengkilau yang
menampakkan kecantikan perempuan berkerudung ini.
Tapi, sekali lagi, dimataku lukisan ini
nampak biasa. Bahkan nampak bukan apa-apa dibandingkan coretan anak kecil.
Aku menggeleng pelan. Kuambil kuasku lagi,
memberinya cat merah.
Lalu, mencoret lukisan ini dengan ‘X’ besar.
Dan tanpa kusadari, kantung mata sudah
menghiasi mataku.
*
Aku mengingat lagi, sudah berapa banyak
lukisan yang kuberi tanda ‘X’ merah?
Tanpa sadar, kedua kakiku menuntunku menuju
kelas.
Lalu, aku melihat coretan-coretan kapur
teman-temanku yang menghiasi papan tulis berwarna hijau yang sekarang sudah
tidak polos ini.
Banyak yang menuliskan kata-kata semangat
dan perpisahan. Dengan kapur putih, pink, biru. Berbagai warna berkumpul
disini.
Aku menatap papan tulis itu kosong. Semua
hal sekarang berkelibat di dalam kepalaku. Lukisan-lukisanku, penerimaan
ijazah, lukisan-lukisan yang sekarang sudah tercoret dengan ‘X’ besar.
Dan yang terakhir, perempuan berkerudung
pink yang merobek kertas ijazah yang baru diterimanya tadi.
Cahaya sore mengikutiku kemana pun aku
pergi. Menyinari diriku beserta papan tulis itu.
Sekarang pikiranku benar-benar sudah
kosong. Aku melihat kearah cahaya sore yang menyinari diriku. Cukup silau
sebenarnya, tapi aku sudah tak peduli.
Pikiranku sudah kosong.
Dan tanpa sadar, pikiranku mem-flashback sesuatu. Sesuatu yang
membuatku menyukai lukisan bahkan melukis itu sendiri.
…
Waktu
itu, umurku dan perempuan berkerudung itu masih sekitar 10 tahun. Kami lumayan
sering main bersama, tak dipungkiri juga orangtua kami dekat.
Sewaktu
itu pula, kami sering berjalan pulang melewati waduk memanjang yang sewaktu itu
masih digunakan.
Suatu
hari…
Air
yang bergelombang deras itu menimbulkan efek cahaya yang menarik di kedua mata
kami. Cahaya matahari yang hendak terbenam, menyinari riukan air yang cukup
deras.
“Tahu
nggak…” aku melirik kearah perempuan berkerudung coklat acak-acakkan itu “…Aku
benar-benar suka dengan pemandangan seperti ini…coba ada yang bisa membuat
pemandangan ini tersimpan dikepala selama-lamanya…” kata perempuan berkerudung
itu sambil tersenyum hangat.
Entah
kenapa, aku merasakan aura nostalgia pada saat menatap pemandangan ini
bersamanya.
Aku
lalu mengalihkan perhatian kearah waduk itu. Berpikir, bagaimana bisa aku
mewujudkan mimpi polos anak perempuan ini.
Lalu,
aku mengangguk membulatkan tekadku.
“Bagaimana
kalau lukisan?”
Keheningan
terjadi diantara kami berdua, sementara aku diam menunggu jawaban.
“Eh?”
perempuan itu menatapku.
“Iya,
karena aku tak begitu pintar dalam hal kamera…mungkin aku bisa melukis
pemandangan ini! Kau tahu…sebagai hadiah pertemanan kita!” balasku tanpa menggubris
kebingungan sang perempuan kecil.
Perempuan
kecil itu hanya menatapku dalam diam, seakan-akan berusaha mencerna
perkataanku. Tak lama, dia pun tertawa kecil.
“E-eh?!
Kenapa?!” aku mulai malu dan panik. Apa jangan-jangan aku mempermalukan diriku
sendiri?!
Perempuan
berkerudung itu menghela napas. Tersenyum. Lalu dia menatapku dengan tatapan
senang dan hangat.
“Aku
akan menunggu janji itu…” katanya sambil tersenyum lebar.
…
Lalu, sebuah pemikiran yang entah
dikarenakan oleh apa, muncul dikepalaku.
Setidaknya, aku harus meninggalkan sesuatu
yang besar di sekolah ini. Meninggalkan lukisan terbesar. Meninggalkan janjiku
pada perempuan itu!
Ah!
Aku mendapat ide. Tanganku bergetar saat
aku mendapatkan ide ini.
Aku membalikkan badan. Berlari keluar kelas
dengan kecepatan yang tak pernah kurasakan.
Aku
harus melakukan ini!
...
Aku segera mengambil kuas. Kuas besar,
kecil tak kulihat sekarang. Lalu, aku mengambil cat orange dengan terburu-buru.
Mengambil barang yang aku butuhkan untuk membuat lukisan terbesar itu.
Mengambil barang apapun yang terlihat. Aku
tak punya waktu hanya untuk mencari barang yang dibutuhkan!
...
Aku melempar cat kearah papan tulis. Lalu,
dengan kuas besar, aku mulai menyusunnya. Mulai membentuknya untuk menjadi
cahaya mentari sore yang indah.
Aku
melempar cat lagi. Menyusunnya lagi. Melemparnya lagi. Menyusunnya lagi!
Terus! Terus seperti itu!
Cat yang berserakan dan bertumpahan di
lantai tak aku pedulikan.
Melemparnya, mencatnya, menyusunnya! Itu
yang ada dipikiranku!
...
Aku mundur. Untuk melihat karyaku. Papan
tulis itu, telah berubah menjadi warna orange.
Berubah menjadi langit sore yang selalu kulihat bersama dengan perempuan
berkerudung pink itu.
“Sentuhan terakhir” gumamku. Mengambil
ijazahku beserta kayu untuk membuat ijazahku dapat kupajang. Setelah itu, aku
menempelkan Ijazahku di kayu itu.
Lalu, aku mengambil kuas kecil, dan mencelupkannya
ke cat merah.
Aku menatap ijazah yang sekarang tertempel
di kayu. Menaruhnya, menyenderkannya ke papan tulis, lalu mengambil kuas yang
sekarang sudah terkotori dengan cat merah.
Dan hal yang selalu kulakukan pada
lukisanku.
Dengan lincah, tanganku bergerak mencoret
ijazahku. Mencoretnya dengan tanda ‘X’ merah.
*
“Hei, kudengar…ada yang mencoret-coret
kelas kita ya? Dan katanya…coretannya sampai mengotori hampir setengah kelas!
Aku sempat melihatnya tadi! Hebat…aku suka bagaimana caranya mengotori
kelas…walaupun Pak cleaning service
sekolah langsung jengkel…”
Aku hanya tersenyum mendengar celotehan
teman perempuanku ini. Teman masa kecilku, seorang gadis berkerudung pink penyuka sunset dan warna orange
ini.
“Siapa yah, yang sudah membuat master piece seperti itu, aku ingin
berterima kasih entah kenapa…” gumam perempuan itu sembari melirikku sedikit.
Dan aku menangkap arti lirikan penuh terima
kasih, kagum, tak percaya dan sebersit rasa bahagia beserta lega.
Aku hanya membalasnya dengan senyum. Mataku
pun beralih memandang semburat matahari berwarna jingga. Matahari yang akan
menyembunyikan dirinya sampai pagi pun memanggilnya kembali.
Mataku berbinar memandang langit-langit orange
yang dilapisi dengan awan-awan putih nan tipis. Teringat kembali
ketika tangan-tanganku melempar kaleng-kaleng cat tadi.
Sambil tersenyum, aku berkata “Tenanglah,
sang master pasti akan menerima
terima kasihmu dengan lapang dada. Aku tahu itu…”
Dia tertawa kecil “Darimana kau tahu?”
tanyanya pelan. Kembali melirikku dengan binar-binar cerianya.
Aku menatapnya. Menatap matanya dengan
tatapan yang juga lega. Tak lama, aku mengangguk.
“Entahlah. Aku hanya tahu…”
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar